Gang Hijau, Penyelamat Pangan Warga Jakarta

Tidak ada kesan pengap saat melintasi Gang Nanas di RT 003 RW 007, Kelurahan Srengseng, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Jalan selebar kurang dari 2 meter itu juga tidak terlihat sempit. Ratusan tanaman yang dipajang pada kanan-kiri gang, seakan membuat pelintas hanya merasakan keasriannya.

Tanaman hias dan tanaman obat keluarga (toga), seperti lidah mertua (Sansevieria), daun ungu (Graptophyllum pictum), kelor (Moringa oleifera), atau gelombang cinta (Anthurium) hampir bisa ditemui sejak pintu masuk hingga sepanjang 500 meter gang. Tidak hanya itu, sejumlah tanaman jenis sayuran juga bercokol pada sejumlah rak hidroponik di sisi-sisi gang. “Sayuran-sayuran dari hidroponik ini kami bagikan secara gratis kepada warga,” kata Rafael Sugito, Ketua RT 003 RW 007 Kelurahan Srengseng.

Sebelumnya, sayuran-sayuran, seperti kangkung, bayam, atau sawi dijual kepada warga sekitar RT 003 dan RT lain dengan harga murah. Sebagai perbandingan, jika satu ikat besar kangkung di pasaran dijual Rp 20.000, kangkung hasil panen mereka hanya dijual Rp 10.000. “Hasil penjualan itu kami belikan bibit dan nutrisi, agar kami bisa menyemai lagi,” katanya.

Gang hijau di Kelurahan Srengseng pertama kali muncul berkat inisiatif dari Sugito. Pada 2016, ia mengikuti pelatihan hidroponik di Pluit, Jakarta Utara. Hasil dari pelatihan itu, langsung ia praktikkan di lapangan bulu tangkis kampungnya.

Warga yang melihat kreasi Sugito tertarik mengikuti jejaknya. Karena lahan yang tersedia sangat terbatas, warga kemudian membuat hidroponik bersama. Mereka juga membentuk Komunitas Petani Kota Gang Hijau Nanas.

Seiring berjalannya waktu, warga RT 003 tidak hanya menanam sayuran di hidroponik. Mereka juga menanam tanaman hias dan toga. Tidak mengerankan jika saat ini ratusan toga bercokol di sisi-sisi gang. “Pada 2017 ada bantuan tanaman dan pot dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Barat,” tambah Sugito.

Warga tak hanya mengandalkan bantuan. Mereka juga mengumpulkan uang secara swadaya untuk membeli pot dan tanaman yang lebih banyak. Tidak ada tanaman milik perorangan di Gang Hijau Nanas. Seluruhnya milik bersama.

Dari situ, para warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam merawat tanaman yang terletak di depan rumah masing-masing. “Setiap 17 Agustus kami adakan lomba. Bagi yang tanaman di depan rumahnya paling bagus dan terawat kami berikan hadiah. Daster untuk ibu-ibu, baju untuk bapak-bapak,” kata Sugito.

Jika keberadaan sayuran dan toga dapat dikonsumsi warga, tanaman hias bukan sekedar untuk menambah keasrian gang. Menurut Sugito, keberadaan tanaman hias juga cukup krusial untuk menyerap polutan. Seperti diketahui, setiap kemarau seperti sekarang ini, kualitas udara di Jakarta cenderung memburuk.

Sumber nutrisi

Pegiat gang hijau “Ampar Adhum” yang berlokasi di RT 007 RW 008 Kelurahan Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur, Fikri Husin, mengatakan, hingga kini memiliki 30 rak hidroponik. Setiap rak berisi 64 netpot atau pot berukuran kecil.

“Berarti kami punya sekitar 1.920 netpot di gang hijau kami,” katanya dalam webinar “Strategi Pengembangan Gang Hijau yang Asri dan Produktif di DKI Jakarta”.

Setiap rak minimal dapat memanen sayuran rata-rata 4 kilogram. Jika ada 30 rak, ada 120 kilogram sayuran dalam sekali panen. Jumlah tersebut tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan warga RT 007 RW 008 saja, tetapi juga warga di RT dan RW lainnya.

“Terutama saat bulan Ramadhan yang lalu. Warga banyak memasak dari sayuran yang dipanen dari sini,” ujar Fikri.

Menurut Fikri, keberadaan gang hijau di kampungnya memberikan kesempatan bagi warga kampung untuk menikmati sayuran yang bernutrisi dan higenis. Ia menilai, hal itu hanya bisa dinikmati warga kalangan ekonomi menengah ke atas selama ini.

“Kemarin ada supermarket juga yang tertarik membeli produk kami, tetapi masih kami diskusikan dengan warga. Jangan sampai mereka kekurangan,” katanya.

Tepis kesan kumuh

Sementara itu, hampir satu tahun lamanya Gang Hijau RT 008 RW 009 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Palmerah, Jakarta Barat, menanggalkan kesan kumuhnya. Sejak Agustus 2019, gang ini resmi dinamakan gang hijau setelah 500 tanaman dipajang di sisi-sisi gang.

Warga beruntung mendapatkan bantuan ratusan tanaman tersebut dari PLN melalui program PLN Peduli. Sejak saat itu pula, pengurus RT mewajibkan setiap warganya menyumbangkan satu tanaman per bulan.

“Sebelumnya gang di sini kumuh dan pengap. Namun, dengan banyaknya tanaman, kesan tersebut berubah total,” kata pengelola gang hijau di RT 008 RW 009 Kelurahan Kota Bambu Selatan, Juriah.

Menurut Juriah, kebanyakan jenis tanaman di gang hijau Kota Bambu Selatan berjenis toga. Tanman tersebut di antaranya kelor, sirih (Piper betle), sambiloto (Andrographis paniculata), atau brotowali (Tinospora cordifolia).

Toga dipilih bukan tanpa alasan. Lokasi RT 008 RW 009 Kota Bambu Selatan terletak tepat di sebelah timur Rumah Sakit Darmais dan sisi selatan RS Harapan Kita. Di kampung tersebut juga banyak berdiri rumah kos untuk pasien yang berobat jalan di dua rumah sakit tersebut.

Keberadaan tanaman-tanaman jenis toga tersebut ternyata selama ini digemari oleh para pasien yang indekos di sana. Pengelola juga membebaskan para pasien untuk memetik tanaman yang mereka inginkan. “Pasien-pasien memang sering ambil tanaman dari sini. Kami bebaskan, barangkali bisa membantu pengobatan,” katanya.

Lokasi bertambah

Menurut Kepala Seksi Pasca Panen dan Pengelolaan Hasil Pertanian DKPKP Eti Rohaeti, berdasarkan data 2017, jumlah gang di DKI Jakarta sebanyak 2.258 lokasi. Sementara gang yang sudah dikembangkan menjadi gang hijau sebanyak 512 lokasi.

“Ini merupakan potensi yang luar biasa. Jika bisa diperluas lagi, Jakarta akan memiliki kampung yang hijau, asri dan produktif,” katanya.

Eti menambahkan, gang hijau tidak hanya memberikan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga sisi ekonomi dan sosial. Sebab, di gang hijau tersebut ada ketahanan pangan dan gotong royong para warga.

Selain itu, tentu saja gang hijau ikut menyegarkan pemandangan. Pada akhirnya lokasi ini menjadi oase kecil di tengah sesaknya kehidupan Ibu Kota.

Oleh Fajar Ramadhan

Sumber : e-newspaper Kompas edisi 18 Juli 2020