Diskusi Dengan Petani, ECHO Green Temui Sayuran Sebagai Komoditas Potensial Ramah Perempuan

Batang Anai, Padang Pariaman – ECHO Green melaksanakan kegiatan “Pengumpulan Data Praktik Ekonomi Hijau dan Rantai Nilai Komoditas Potensial” yang dilakukan secara diskusi dengan petani perempuan dan generasi muda tani di Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman. (3/2/2021)

Program Mendorong Inisiasi Ekonomi Hijau oleh Petani Perempuan dan Pemuda dalam Sektor Pertanian Berkelanjutan di Indonesia (ECHO-Green) yang bertujuan untuk mempromosikan inisiatif ekonomi hijau oleh petani perempuan dan pemuda di sektor pertanian berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, ekonomi dan ketahanan pangan sebagai upaya untuk  mendukung pencapaian SDG 2 (Zero Hunger), SDG 5 (Gender Equality) dan SDG 8 (Good Jobs and Economic Growth) di Indonesia. Program Echo-Green yang didukung oleh Uni Eropa ini akan diimplementasikan dalam periode 3 tahun (Januari 2020 – Desember 2022) dan telah diimplementasikan di lapangan selama 1 tahun di Kabupaten Padang Pariaman meliputi Kecamatan Lubuk Alung, Ulakan Tapakis dan Batang Anai yang menghasilkan berbagai macam output yaitu peta tematik dan peran generasi muda serta kelompok tani perempuan dalam mengambil keputusan dan membangun ekonomi berkelanjutan (livelihood) di Kabupaten Padang Pariaman. 

Kemarin, kami telah melaksanakan kegiatan “Pengumpulan Data Praktik Ekonomi Hijau dan Rantai Nilai Komoditas Potensial Di Kecamatan Batang Anai” (3/2/2021). Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis dan menggali potensi ekonomi dibidang pertanian ramah bagi petani perempuan dan generasi muda.  Diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian berkelanjutan Kegiatan ini dihadiri oleh 23 peserta (17 perempuan) dan (6 laki-laki) diantaranya berasal dari tim peneliti Penabulu, Tenaga Teknis Pertanian dan Sub- District Coordinator Padang Pariaman, petani perempuan, generasi muda dan pedagang sayur. 

“Petani perempuan yang ada disini sudah memanfaatkan lahan pekarangan rumah dengan menanam sayuran dan rempah-rempah,” ungkap Syamsi Warnis, Pendamping Penyuluh Pertanian (PPL) Kecamatan Batang Anai, Rabu (3/2/2021). Ia juga menambahkan bahwa dirinya akan selalu memonitor KWT yang ada di nagari dan mengungkapkan bahwa akan marah jika ada yang ketahuan membeli sayur atau rempah – rempah dapur di pasar tradisional. Ternyata hingga detik ini tidak ada yang membeli sayur dan rempah – rempah di pasar tradisional. “Hanya beberapa petani perempuan saja yang fokus dan menanam sayuran untuk dijual dan kelebihannya akan dikonsumsi sendiri. Besar harapan saya dengan adanya program Echo-Green kelompok tani baik pemuda ataupun perempuan terpicu untuk fokus menanam sayur-sayuran agar bisa menambah pemasukan”. ungkapnya.

Sunaji Zamroni, Peneliti mengatakan, secara khusus program ini akan fokus pada upaya meningkatkan pendapatan ekonomi dibidang pertanian yang melibatkan perempuan dan generasi muda tani untuk  menerapkan good agriculture practice dari hulu hingga hilir dimulai dari menanam komoditas yang cocok, ramah lingkungan dan bisa menghasilkan penghasilan perhari dengan masa panen yang singkat tapi mampu meningkatkan pendapatan ekonomi minimal mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga. Saat ini komoditas yang cocok dan mampu meningkatkan kebutuhan rumah tangga adalah sayuran dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah dan ladang semaksimal mungkin.

Perwakilan dari kelompok tani perempuan ibu Yelmina mengungkapkan dalam pepatah Minangkabau “di sawah punyo bagindo, di rumah punyo si upiak” yang berarti pengelolaan keuangan di rumah tangga dari hasil pertanian yang memegang hak adalah perempuan.  Tetapi dalam pengambilan keputusan saat pengelolaan lahan yang memiliki wewenang adalah laki-laki. Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa masih kurangnya keterlibatan dan peran perempuan dalam mengambil keputusan. 

Program Echo-Green tidak hanya hadir untuk mendorong keterlibatan perempuan  dalam sektor pertanian tetapi juga mendukung petani muda sebagai generasi penerus.  Bagaimana generasi muda tani bisa menjadi generasi penerus yang inovatif untuk mendukung keberlanjutan pertanian yang ada di Indonesia. Generasi muda tani bisa menjadi wadah untuk membantu petani secara langsung dalam proses pemasaran meskipun khususnya Korong Marantiah, Nagari Katapiang telah diterapkannya ekonomi berbagi antara petani dengan pedagang sayur atau pengumpul karena asas kepercayaan. Tapi, untuk beberapa kasus masih ada petani yang memberikan hasil panennya kepada pengumpul besar yang rantai pasarnya masih dibilang panjang, disinilah peran Echo-Green untuk memberikan penguatan kapasitas untuk kelompok perempuan dan generasi muda tani.