ECHO Green Gelar Focus Group Discussion “Studi Partisipatif Ekonomi Hijau”, Dinas Kabupaten Padang Pariaman: Siap Memfasilitasi

Padang Pariaman, ECHO Green melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) “Studi Partisipatif Ekonomi Hijau” pada tingkat Kabupaten yang bertempat di Kantor Bapelitbangda, Padang Pariaman. (4/2/2021)

Keberlanjutan kegiatan proyek “Echo Green” yang didukung oleh Uni Eropa, Konsil LSM Indonesia selaku pelaksana proyek pada tiga kecamatan di kabupaten Padang Pariaman, untuk tahun kedua ini dimulai dengan studi partisipatif tentang pertanian (ekonomi hijau) dan potensi pertumbuhan ekonomi masyarakat di lokasi kegiatan. Studi ini adalah langkah awal untuk menemukan komoditi unggulan yang pada prakteknya melibatkan peran aktif petani perempuan dan petani generasi muda.

Focus group discussion (FGD) juga sudah kita laksanakan kemarin (3/2) di tingkat nagari dan sekarang di tingkat kabupaten,” jelas Igus Novaldi, Sub District Coordinator proyek Echo Green di Kantor Bapelitbangda Kabupaten Padang Pariaman.

FGD dilaksanakan pada hari rabu (4/2) dan dibuka langsung oleh Kepala Bapelitbangda Kabupaten Padang Pariaman, Bapak Ali Imran. Di dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa, Pemda sendiri memang memiliki keterbatasan dalam hal pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. “Dengan adanya kegiatan dari Program Echo Green ini diharapkan nantinya akan muncul inovas-inovasi baru di bidang pertanian di 25 Nagari ini,” ujarnya.

FGD tersebut dihadiri oleh 20 orang yang terdiri dari berbagai elemen seperti, petani perempuan, petani generasi muda, Wali Nagari, Dinas Perdagangan,Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kabupaten Padang Pariaman, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Padang Pariaman, Peneliti Yayasan Penabulu dan Tim Proyek Echo Green Padang Pariaman.

Lebih jauh Mas Sunaji Zamroni, peneliti yang di-hire oleh Lead Project – Yayasan Penabulu menguraikan hasil temuannya pada FGD di nagari, “secara indikatif saya temukan dan ditemukan juga di data BPS komoditas yang memberi akses dan kontrol untuk perempuan itu adalah sayuran.” Menurutnya, karena sayuran itu dekat dari rumah sehingga petani perempuan dapat terlibat langsung bahkan mampu memutuskan sendiri kapan memetik dan sebagainya. Sedangkan padi dan jagung terlihat sebagai area lelaki, sehingga perempuan hanya membantu dan tidak terlibat penuh dalam pengambilan keputusan.

“Ada lagi yang menarik, bahwa terbangunnya rasa percaya yang tinggi antara petani dan pedagang sayur di nagari Katapiang. Serta adanya sistem ekonomi berbagi antara petani dan pedagang.” Lanjut Mas Naji, begitulah sapaan akrab beliau.

Sedangkan untuk generasi muda, hasil FGD di nagari kemarin mengarah ke komoditi bawang merah. “Ada case dimana beberapa orang generasi muda tertarik menanam bawang merah dan ternyata mampu meraup untung puluhan juta sekali panen,” jelas Mas Naji. Dari hasil penilaian individu selama FGD ini berlangsung menunjukkan bahwa komoditi sayuran dan bawang merah memiliki nilai yang baik dalam hal akses dan kontrol petani perempuan dan petani generasi muda. 

Dua komoditi tersebut memiliki kendala yang berbeda-beda. Untuk sayuran khususnya singkong, memiliki kendala panen yang tidak kontinu. Sedangkan untuk komoditi bawang merah memiliki kendala permodalan dan pasar. Untuk masalah modal dan pasar, Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM Kabupaten Padang Pariaman  bersedia memfasilitasi kedua masalah tersebut. “Untuk modal bisa gunakan fasilitas KUR, sedangkan untuk pasar, kita punya toko tani untuk itu,” jelas Pak El.

Permasalahan lain yang muncul kepermukaan ialah jiwa entrepreneurship yang masih rendah di kalangan generasi muda kita khususnya di kabupaten Padang Pariaman. “Anak-anak kita di sini lebih suka merantau,” jelas Pak El. Salah seorang mentor petani bawang merah yang hadir, Pak Yusuf berbagi tips dalam merangkul generasi muda untuk menanam bawang merah,”pertama kita ajak dan kita ceritakan hal positifnya, lalu kita perlihatkan bentuk tanamannya dan harga jualnya.”

“Pasti ada yang tertarik, satu atau dua orang ikut lalu melakukan praktek yang langsung saya dampingi, alhamdulillah mereka meraup untung jutaan rupiah dalam 2 bulan. Nah sekarang sudah banyak yang ikut pula, mereka punya lahan tapi tak punya modal.” tambah Pak Yusuf.