Harapan Besar Petani Bawang Merah Dataran Rendah Nagari Singguliang Padang Pariaman

Padang Pariaman, ECHO Green mengadakan kegiatan Focus Group Discussion(FGD) Studi Partisipatif Pertanian Hijau yang bertempat di Gedung Serba Guna Nagari Singguliang Kecamatan Lubuk Alung (3/2/2021).

Kegiatan FGD ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi dibidang pertanian dan praktek-praktek pertanian berkelanjutan, yang nantinya diharapkan dapat ditemukannya komoditi unggulan yang melibatkan peran serta perempuan dan generasi muda tani serta adanya informasi rantai nilai komoditas. Kegiatan ini difasilitasi oleh Sunaji Zamroni dan dihadiri oleh sekretaris desa, petani muda dan petani perempuan, serta tim  ECHO Green Kab. Padang Pariaman.

Sekretaris Desa dalam sambutannya, sangat mendukung  kegiatan yang akan dilaksanakan di Nagari Singguliang. Dalam kondisi saat ini, pemerintahan desa belum banyak menyentuh sektor pertanian, dikarenakan sebagian besar kegiatan masih terfokus kepada masalah kesehatan pada pandemi Covid-19. Maka dari itu dengan hadirnya program ECHO Green yang didukung oleh Uni Eropa ini tentunya sangat membantu nagari untuk pengembangan pertanian. Apalagi sasaran programnya adalah petani perempuan dan petani muda, tentunya akan membuka akses yang luas terkait peran dan keikutsertaan petani perempuan dan generasi muda untuk peningkatan ekonomi keluarga. Tidak lupa juga pemerintahan desa memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan pada tahun pertama (2020) yang telah melakukan pemetaan terkait tata ruang  dan tata kelola penggunaan lahan sektor pertanian. 

Sunaji Zamroni sebagai Fasilitator dan peneliti, mencoba menggali informasi dari peserta FGD mengenai potensi komoditi yang ada di Nagari Singguliang. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari peserta FGD, budidaya bawang merah sangat berpotensi untuk dikembangkan di Nagari Singguliang, hal ini didukung adanya keterlibatan petani perempuan dan generasi muda, Meskipun masih belum banyaknya partisipatif dari petani perempuan dan generasi muda.  Dalam acara FGD tersebut ada empat orang petani muda dan dua petani perempuan yang sudah mulai melakukan budidaya bawang merah sejak tahun 2018. Dibalik keikutsertaan petani muda dan perempuan tersebut dalam budidaya bawang merah ada aktor yang berperan penting, yaitu Bapak M. Yusuf, petani bawang merah yang berasal dari Kab. Solok Alahan Panjang yang beristrikan seorang perempuan di Nagari Singguliang.  Awalnya,  beliaulah yang mengembangkan bawang merah di Nagari tersebut. Pada tahun 2008, Bapak M.Yusuf mencoba menanam bawang merah di Nagari Singguliang. Tidak mudah baginya untuk mengembangkan bawang merah di dataran rendah seperti di Nagari Singguliang.  Pada saat itu, beliau lah satu-satunya orang yang menanam bawang merah di sana.  Berkat kegigihan Bapak M.Yusuf, akhirnya bisa mengembangkan bawang merah di Nagari Singguliang dan mengajak beberapa petani muda dan perempuan serta memberikan pendampingan sampai mereka paham mengenai budidaya bawang merah tersebut.

Dari penjelasan peserta FGD, untuk saat ini permasalahan yang dihadapi oleh petani bawang merah di Nagari Singguliang adalah kondisi tanah yang kurang subur, modal untuk budidaya, pasar dan harga jual. Berdasarkan hal tersebut Peneliti, memberikan masukan kepada Pemerintahan Nagari untuk mencarikan  solusi seperti pinjaman modal dan pembelian hasil produk pertanian. Contoh sumber dana, bisa dari  perantau dan dukungan dari dana desa. Dapat juga, memasukkan pengembangan usaha tani dalam usaha BUMNAG, pembentukan koperasi dan portofolio bisnis. Dengan ada nya masukan-masukan tersebut, diharapkan nantinya bisa meringankan permasalahan yang dihadapi oleh petani bawang merah di Nagari Singguliang.