Kegigihan Petani Muda

Dengan nilai pas-pasan, setelah lulus SMP, Rayndra diterima di jurusan pertanian SMKN Ngablak, Magelang, Jawa Tengah. Awal bersekolah di SMK bidang pertanian, Rayndra masih enggan. Saat praktik lapangan kerja di perusahaan yang mengelola 5.000 ayam petelur, Rayndra baru tersadar sulitnya mencari uang. Ia pun menyesal pernah menjadi anak nakal dan enggan belajar.

“Saya dikerjain pegawai di kandang pas PKL untuk bekerja keras. Di situlah saya merasakan mencari uang itu susah. Saya mikir, kenapa selama ini enggak jadi anak yang benar. Saya bertekad untuk berubah,” ujar Rayndra yang dihubungi dari Magelang, Rabu (1/7/2020).

Rayndra semakin giat belajar dan meraih sederet prestasi. Dia dipilih mewakili sekolah di ajang Lomba Kompetensi Siswa bagi siswa SMK dan masuk enam besar se-Jawa Tengah.

Lalu, timbul di benaknya untuk menjadi wirausaha di bidang petanian. Ia memulainya dengan berjualan sayur-mayur produksi gurunya di SMK. “Saya sering jualan di acara car free day, menenteng kotak berisi sayur. Teman-teman lain mejeng, saya pede saja jualan,” ujar Rayndra.

Ia memberanikan diri meminta modal kepada ayahnya sebesar Rp 2 juta. Saat lulus sekolah, dia sudah menjual sampai 1.000 ayam. “Tetapi bukannya untung, malah rugi. Saya baru tahu, harga ayam pedaging fluktuatif. Panen dua kali, rugi terus karena harga jual rendah sampai uang saya habis,” cerita Rayndra.

Kegagalan tak membuatnya menyerah. Tahun 2014, Rayndra mendapat beasiswa kuliah diploma empat di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang. Saat kuliah, Rayndra tetap berwirausaha dengan menjadi penjual hewan ternak milik tetangganya. Tanpa modal, ia menawarkan kambing dan ayam kepada pembeli.

Tiap hari pukul 02.00-05.00, Rayndra juga mencabuti bulu ayam, lalu mengantar ayam yang sudah bersih ke pasar pukul 06.00. Sejam kemudian, ia bersiap kuliah tanpa mengantuk.

Ternyata ada pejabat Kementrian Pertanian saat bermalam di kampus melihat kegiatan Rayndra. Kegigihannya menginspirasi kemunculan program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP). Tahun 2016, Rayndra mendapat modal Rp 15 juta dari PWMP. Bersama dua temannya, ia membuat bisnis dengan nama Cipta Visi Group. Wirausaha dimulai dengan membuka peternakan ayam jawa super, persilangan ayam petelur dan ayam Bangkok. Sisa keuntungan dikembangkan jadi peternakan kambing. Bisnis ditingkatkan dengan tambahan modal dari pinjaman bank Rp 50 juta.

Bisnis berkembang sehingga pada tahun 2018 Rayndra mendapat PWMP lagi Rp 30 juta. Mereka mampu menarik investor dengan konsep beternak kambing, domba, dan sapi yang minim modal serta pertanian terintegrasi dengan sentuhan inovasi dan tenknologi.

Selama tiga tahun, kini ada 700 kambing dan 20 sapi. Kandang tersebar di Desa Sidorejo, Desa Ngadirejo, dan Desa Pangarengan. Ada juga pencacah sampah plastik dengan kapasitas 5 ton per minggu.

Rayndra yakin tiap desa mempunyai potensi pertanian yang bisa menjadi sumber kehidupan bagi anak muda. Ia ingin mengubah gambaran petani yang kotor dan miskin menjadi petani gaul yang melek internet, teknologi dan inovasi, serta bermanfaat bagi masyarakat desa.

Kandang-kandang hewan ternak milik Rayndra dibuat sederhana dengan bahan kayu bekas atau bahan murah lainnya. Dia juga membuat pakan hewan dari pohon jagung yang tak dimanfaatkan dengan cara difermentasi. “Saya buat kandang sederhana supaya bisa ditiru. Kalau investasi awal sudah tinggi, nanti orang tak tertarik. Yang penting tujuan dan manfaatnya sama,” ucap Rayndra yang sedang kuliah S-2 di UPN Veteran Yogyakarta.

Penampilan Rayndra tidak kucel. Ia mendesain kaus kekinian berisi motivasi menjadi petani, seperti kaus bertukiskan “Yo Ngarit Yo Ngopi”. “Saya memakai kaus begini supaya enggak malu menjadi petani. Berat, lho, untuk percaya diri menjadi petani,” ujarnya.

Rayndra mencoba mengajak kaum muda dalam usaha pertanian yang identik dengan desa ini. Alasannya, omzet di sektor pertanian dan peternakan besar, bisa mencapai Rp 100 juta-Rp 250 juta per bulan, karena tak banyak orang melirik usaha ini. Dia mau membimbing dan memodali anak muda yang memiliki proposal bagus dalam bisnis pertanian. “Anak muda masih malu untuk berusaha di sektor pertanian dan peternakan. Kian jarang ada petani berusia kurang dari 25 tahun di desa-desa,” katanya.

Rayndra membuktikannya dengan menggagas badan usaha milik desa (BUMDes) di tempat tinggalnya di Desa Losari, Kecamatan Pakis, Magelang. Dia ditunjuk menjalankan BUMDes Losari dengan modal Rp 100 juta. Saat itu, ia menjadi direktur BUMDes termuda di Jawa Tengah.

Rayndra sering turun ke desa-desa untuk memberi pelatihan bertani dan berternak guna menambah pendapatan keluarga. “Saya melihat banyak potensi besar, produk lokal ataupun budaya, yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Oleh Ester Lince Napitupulu

Sumber : e-Newspaper Kompas edisi 13 Juli 2020