M Khoirul Soleh Kawan Para Petani

Khoirul yang tinggal di Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini mengusahakan dua hektar kebun bibit di enam lokasi berbeda. Sebanyak 5.000 meter persegi adalah kebun miliknya. Sisanya milik petani lain yang menjadi mitra.

Di kebun-kebun itulah, Khoirul membudidayakan ratusan jenis bibit tanaman, mulai tanaman buah-buahan, seperti srikaya, apel, dan kelengkeng; tanaman hias; hingga tanaman herbal, seperti binahong, sambungnyowo, dan purwaceng.

Sejauh ini, ia telah bermitra dengan para petani di Kecamatan Salaman. Selanjutnya, ia akan bermitra dengan dua hingga tiga petani di Kecamatan Tempuran. Dalam kemitraan itu, Khoirul memberi modal kerja untuk bertani, terutama kepada warga yang menganggur atau memiliki pendapatan rendah.

Tidak berhenti di situ, ia juga mengajari teknik budidaya tanaman yang baik dan cara menjualnya secara daring untuk menghindari jerat tengkulak. Pengetahuan tidak hanya ia berikan kepada mitra, tetapi juga kepada siapa pun yang berminat. Caranya lewat pelatihan formal di rumahnya hingga obrolan langsung atau pun melalui telepon.

Kadang ia dipanggil ke beberapa daerah untuk memberikan pelatihan, termasuk melatih personel TNI dan pekerja di perkebunan durian di Pekanbaru. “Kadang saya mendapatkan honor besar dari ekspedisi, kadang saya jadi tenaga PPL (penyuluh pertanian lapangan) gratisan,” ujarnya sembari terkekeh.

Laki-laki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu tidak peduli aktivitasnya membagi ilmu kepada orang lain akan menghasilkan pesaing bagi usahanya. “Dalam hidup, manusia harus bisa berguna untuk manusia lainnya,” katanya.

Ia justru senang jika petani yang ia bina bisa berkibar sebagai pengusaha mandiri. Oleh karena itu, dalam kemitraan yang ia bangun, ia membebaskan petani mitra mengambil keputusan. “Jika nanti mereka menemukan pasar dan mampu menjual produknya sendiri, saya mempersilahkan mereka mandiri, menjalankan usahanya sendiri tanpa bermitra lagi,” ujarnya.

Ia berharap petani mitra yang telah mandiri itu bisa menjadi contoh dan diikuti petani lain. Harapannya ternyata tidak menemui ruang kosong. Mulai tetangga dan warga beda kampung terjun ke bisnis pembibitan tanaman dan menjualnya secara daring. Dulu di Kecamatan Salaman hanya ada sekitar 100 warga yang menjual bibit secara konvensional. Kini, ada sekitar 1.500 warga yang berjualan bibit secara daring seperti yang dilakukan Khoirul.

Bangkit

Sebelum menekuni bisnis budidaya bibit tanaman, Khoirul terlibat dalam bisnis multilevel marketing (MLM) pada 2003-2008. Lantaran jenuh, ia meninggalkan MLM dan bekerja di sebuah perusahaan otomotif. Di perusahaan itu ia hanya bertahan tiga bulan. Selanjutnya ia berbisnis bambu dan bawang hingga 2010.

Ia juga merintis budidaya sengon. Namun, erupsi besar Gunung Merapi pada 2010 menghancurkan 100.000 bibit sengon yang ia tanam. Ia mengalami rugi cukup besar.

Di tengah kondisi sulit, ia terinspirasi kisah sukses seseorang yang tidak lulus kuliah tetapi mampu menjalankan usaha otomotif dan properti. Khoirul kembali mersemangat menjalankan usaha.

Karena tak ada modal dan pengetahuan budidaya bibit tanaman, ia memulai langkah dengan menjadi pedagang bibit. Ia membeli bibit dari petani dan menjualnya secara daring. Saat itu, sebagian besar petani menjual bibit tanaman kepada tengkulak. “Modal saya telepon seluler. Saya melihat-lihat tanaman yang menarik untuk dijual, memotretnya, dan menawarkannya untuk dijual,” ujarnya.

Delapan bulan kemudian, cara berjualan bibit tanaman secara daring yang dilakukan Khoirul mulai menarik pembeli dari jauh. Ia berhasil menjual 10 bibit tanaman ke Medan, Sumatera Utara. Penjualan pertama itu membuka jalan untuk penjualan-penjualan berikutnya.

Ia semakin rajin memborong bibit tanaman yang dibudidayakan warga untuk dijual kembali. Ia dikenal selalu membeli bibit sesuai harga yang diinginkan petani dan menjualnya sesuai harga di pasaran di tempat domisili pembeli. Dengan cara itu, hubungan dengan petani dan pembeli menjadi baik.

Seiring banyaknya permintaan bibit, muncul pula pertanyaan dari konsumen seputar cara perawatan tanaman. Khoirul yang saat itu belum mengerti budidaya bibit tak bisa menjawab. “Kepada pembeli, saya mengaku hanya tenaga marketing penjualan tanaman. Namun, agar pembeli tidak kecewa, saya selalu berusaha mencari jawaban dengan cara bertanya kepada pakar, petani yang ahli, internet, dan komunitas,” ujarnya.

Dari proses mencari jawaban itu, Khoirul sekaligus belajar membudidayakan bibit aneka tanaman hingga mahir seperti sekarang. Ia juga mengembangkan teknik promosi tidak hanya lewat media sosial, tetapi juga situs. Dari situ, ia bisa menggenjot penjualan hingga 500-1.000 bibit tanaman per bulan. Selain itu, ia bisa menjual ranting dan biji tanaman ke pasar Malaysia.

Setelah tiga tahun menjadi pedagang, Khoirul memutuskan untuk mengembangkan budidaya tanaman sendiri. Awalnya, ia memanfaatkan halaman rumah, kemudian membangun kemitraan dengan petani lain. Hingga kini, ia masih terus membuat terobosan. Ia, misalnya, mulai mengembangkan budidaya padi di pipa paralon dengan sistem hidroganik. Ia juga mengembangkan bibit tanaman langka yang jarang dijual petani lain.

Kesuksesan Khoirul menarik minat banyak teman dan tetangganya untuk mencoba menekuni usaha sendiri. “Ketika ada teman bekerja di sektor dan mengeluh soal kesulitan ekonom lantaran gaji yang tidak mencukupi, saya selalu bilang bahwa solusi atas masalah mereka adalah keluar dari pekerjaan dan merintis usaha sendiri,” ujarnya.

Oleh Regina Rukmorini

Sumber : e-newspaper Kompas Edisi 29 Juni 2020